Senin, 08 April 2013

Tanya di Balik Cinta



Assalamu'alaikum, bismillah.

Semua yang tampak indah di luar takkan-lah indah pula di dalam.
Segala yang terlihat elok di depan bukan juga ia kan baik di belakang.
Apakah seluruhnya yang kau butuhkan hanya beralaskan keinginan? Bukan atas kebutuhan?!

Kau inginkan sebongkah permata, namun sebenarnya kau tak membutuhkannya.
Lalu untuk apa?
Kau ingin dicinta, namun kau tak membutuhkannya.
Lalu apa arti hadirnya?

Hargai, itu saja!

Apa yang kau lihat dan jelas di mata bukanlah seutas jaminan akan hati.
Apa yang kau rasakan setelah mengenalnya, itulah yang hakiki.

Tak usah kau lihat usia...
Jangan kau lihat rupa...
Tak usah juga kau perhatikan setangkai harta, karena seluruhnya mampu dirapatkan dengan dusta!


Pilih dengan petunjuk-Nya semata dan kan kau temui arti Rasa Maha Tinggi sebenarnya.
Bukan dengan ukuran manusia, tapi dengan kadar Penciptanya.

Sungguh tega jika kau hanya menatap satu kekurangannya.
Karena mungkin ia punya lautan kelebihan terhijab di sana.
Yakinlah dengan keteguhan hatinya.
Jangan rendahkan niat baik yang ada.
Walau semungil biji zarah.

Tak ada manusia semulia Nabi akhir, maka takkan ada alasan merendahkan si Fakir.
Tak ada segala sesuatu yang kekal abadi, maka tak ada alasan bagimu meninggikan sang Hati.

 Duhai Ukhti...

Adakah syarat untuk menyayangi?
Adakah syarat untuk mencintai?
Dan apakah ada syarat untuk jatuh hati?

Jika ada, ucapkanlah!

Jangan jadikan ia yang menuntun kasih untuk menyayangimu terhambat.
Jangan biarkan ia yang melangkah untuk mencintaimu tersesat.
Dan jangan biarkan ia yang menjatuhkan hatinya padamu akhirnya merasa bahwa ia salah tempat.

Ingatlah...

Kau takkan merasakan Sayang nan Indah hanya jika melihat rupa.
Kau takkan menikmati Cinta yang Maha hanya jika melirik harta.
Dan takkan pula kau temukan Sejatinya Rasa hanya jika inginkan tahta.

 زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).                                                                                                                                                                       {Ali Imran 3:14} 
Izinkan ia mengenalmu dengan cara terbaik yang di ajarkan Rabb'nya dan biarkan alur-Nya mengantarkan kalian pada Mahabbah yang sesungguhnya meski penuh tanya di balik cinta.


Senin, 11 Juni 2012

Impian



Kapan yaa ? Aku bisa satu rumah bareng anak yatim, duduk bareng ama orang orang fakir dan miskin. Ikut majelis ilmu bareng ulama-ulama yang Istiqomah. Bersahabat dengan orang-orang shaleh karena Allah ta'alla. Duduk mengaji dan mengkaji Al Qur'an bersama keluarga kecil ku di temani mama nya yg Hafal Qur'an (tp untuk yg satu ini masih lama shabat) serta kapan juga yaa aku mempunyai penghasilan satu bulan minimal 30 40 jutaan lah (mimpi jangan tanggung-tanggung sob, Ngadu ke Allah, Allah maha segala nya kok), & kapan juga yaa aku punya pondok pesantren minimal 5 sampai 6 cabang lah, serta panti Asuhan yg anak panti nya wajib ikut serta Hafal Qur'an. 

Yaa Itu lah sebagian mimpi-mimpi ku. Semoga Allah mendengar nya. mudah saja bagi Allah. kan Allah maha Segala nya. Ngapain takut-takut untuk Bermimpi? takut ngga kesampean? Wah bodoh amat itu kan kata manusia yg pesimis. selama IMAN masih di dada Dunia masih dalam genggaman. 

 Allah maha pemberi. maha penyayang. Dan maha pendengar. Tinggal kita nya aja Mau atau tidak ?


Dream,Pray & Action
Jazakallah Khair.


Selasa, 29 Mei 2012

Sejarah Kota Palembang




          Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air. 

   Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah: Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : 

  1. Pegunungan Bukit Barisan. 
  2. Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah. 
  3. Daerah pesisir timur laut. 


Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

     Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran. 

        Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Template by:
Free Blog Templates